Wednesday, 12 October 2016

Menunggu pesawat delay, ngapain aja ya?

Traveling selalu berhubungan sama delay atau peawat yang telat berangkat. Hal ini sudah jadi rahasia umum apalagi kalo kamu pergi pakai maskapai yang berharga murah atau biasa dikenal low cost carrier. Sebenarnya kamu harus beruntung kalo mengalami delay, daripada ditinggal pesawat, ya kan? Pastinya kamu bakal bingung atau merasa bosen kalo mengalami delay penerbangan. Mau ngapain? Lama banget sih? Tapi banyak hal lho yang bisa kamu lakuin selama menunggu penerbangan yang delay. Apa aja sih?
1. Makan Inilah hal utama yang bakal dilakuin apalagi kalo perut terasa lapar tentu kamu cuma rasain emosi. Langkah terbaik adalah cari restoran atau kedai buat puaskan perutmu yang kelaparan. Masalah budget? Wajar kalo di Bandara semua makanan bakal terasa mahal. Tapi kalo kamu jeli, kamu bakal nemuin tempat makan dengan harga yang cukup bersahabat sama kantongmu.
Cari tempat makan murah

Beranikan diri aja buat tanya ke petugas bandara atau biasanya malah petugas cleaning service. Siapa tau mereka bakal kasih rekomendasi tempat makan yang murah dan kamu pastinya bakal hemat kantongmu.
2. Jalan-jalan Jalan-jalan gag cuma bisa dilakuin di kota atau pedesaan aja. Bahkan kamu bisa mencoba jalan keliling bandara yang siapa tahu kamu bakal nemuin hal yang gag kamu duga sebelumnya. Banyak bandara yang punya view bagus dan tentunya kamu bisa membunuh waktu dengan jalan-jalan. Tapi kayanya bakal kurang cocok kalo kamu kena delay di bandara kecil atau sepi. Kamu bakal merasa kurang puas menjelajah bandara yang mungkin menurutmu cukup kecil. Coba deh kalo pas kamu ‘beruntung’ dan pesawatmu delay, keliling bandara aja. Anggap aja itu paket gratis tambahanmu selama traveling.
Jalan keliling bandara

3. Internetan Internet di bandara pasti identic sama Wi-Fi dan kamu harus pinter-pinter cari lokasi dengan wi-fi yang lancer. Soalnya gag semua bandara sediakan wi-fi gratis. Tergantung dari bandara tempatmu ‘terdampar’ jug sebenernya. Overall kamu bisa dapatkan di tempat makan dengan catatan kamu bakal keluar uang lebih banyak. Tapi kalo kamu bisa dapatkan internet gratis dan lancar, why not?
Kalo beruntung kamu bakal nemu internet gratis seperti ini

4. Tidur Ini langkah terakhir kalo kamu emang udah bingung gag tau mau ngapain. Tidur emang cara paling manjur buat membunuh waktu tapi kamu harus pastikan alarm dalam kondisi ‘on‘. Kamu juga harus cari lokasi yang memang nyaman buat tidur. Bisa di kursi boarding room atau musholla. Musholla bisa jadi tempat yang cocok buat tidur nyenyak tapi lokasinya bisa jadi jauh dari boarding room dan gag semua bandara sediakan musholla. Jangan sampai kamu tidur nyenyak buat nunggu delay tapi malah kamu jadi ketinggalan pesawat. Gag mau kan?
Senjata terakhirmu ya tidur

4 cara itu sepertinya bakal jadi cara ampuh kamu usir bosan selama nunggu pesawat yang delay. Jadi mau praktek? Yuk dicoba!

Saturday, 9 July 2016

Traveling jalan dan makan tetap aman

Traveling gag bisa dilepaskan dari kuliner karena kuliner akan membuat kamu seolah telah menancapkan jejak di sebuah tempat atau negara. Setiap negara tentu punya kulinernya masing-masing dan kamu penasaran untuk mencoba kuliner di setiap negara yang dikunjungi. Tapi ada satu masalah yang sebenarnya mengganjal saat akan mencoba kuliner terutama bagi traveler yang muslim,yaitu kehalalan kuliner. Maklum saja, seorang muslim dilarang untuk mengkonsumsi babi ataupun makanan yang mengandung dan digoreng dengan minyak babi. Hal ini yang menjadi tantangan tersendiri saat sedang berkunjung ke negara dimana muslim adalah minoritas, kontras dengan kebiasaan kamu di Indonesia saat mencari makanan halal sangatlah mudah. Jadi banyak orang akan menderita dan ngotot harus menemukan makanan halal.
Sebenarnya itu tidak salah karena setiap orang punya prinsip masing-masing apalagi ini terkait dengan hubungan pribadi dengan Tuhan. Tapi akucuma ingin memberikan pandangan, mungkin juga saran terkait dengan kondisi ini. (kalau ada yang gag setuju silahkan boleh aja, tapi aku lihat dari beberapa sudut pandang).
Berkunjung ke negara dimana orang musim adalah mayoritas seperti Malaysia dan Brunei bukanlah masalah. Hal yang sama pun berlaku saat kamu pergi ke India, meskipun India adalah negara dengan mayoritas Hindu tapi orang Hindu cenderung vegetarian (atau malah udah pasti, koreksi kalau salah) jadi bukan masalah yang besar juga untuk menemukan makanan yang aman karena semua bahan adalah dari tumbuhan. Masalah muncul kalau kamu mulai berwisata ke Thailand, Kamboja, Vietnam, Cina,Jepang dan negara non muslim lainnya. Sebagian penduduknya sangat menggemari makanan dengan bahan utama daging Babi (pork/swine) ataupun dimasak dengan minyak babi. Disini lah tips-tips penting yang mungkin merupakan pandangan subjektif bisa jadi rujukan terutama buat kaum Backpacker yang dananya serba terbatas dan bukan turis dengan dana melimpah. Ada dua skenario yang bisa dicoba
1. Ada restoran atau kedai makanan halal
Ingat, resto dengan harga terjangkau dan bukan di mall yang harganya bisa menguras kantong. Wajar saja kalau kamu pasti akan berusaha mencari restoran atau minimal kedai yang menyediakan makanan halal. Mudah menandai kalau restoran itu menjual makanan halal. Biasanya mereka memiliki tulisan halal dalam bahasa arab di papan resto dan juga penjualnya terutama wanita akan memakai jilbab.
Restoran Halal ala India dan Pakistan
Penjual yang berjilbab jadi jaminan makanan halal
Kalau terus dicoba tentu kamu akan menemukan. Banyak restoran halal tapi dengan harga yang cukup buat hati miris. Tapi kalau kamu nemuin tempat dengan harga wajar terutama di pinggir jalan, langsung hajar aja! Dan itu lah kamu harus bersyukur karena bisa makan dengan aman dengan tetap nyaman karena dompet tidak akan kempes. Pengalaman pribadi, aku bisa nemuin kedai makanan halal di pinggir jalan di dekat Khaosan Road, pusat turis di Bangkok. Alhamdulilah!
2. Gag ada atau gag nemuin
Ini skenario terburuk kalau kamu gag bisa nemuin sama sekali restoran dengan harga mewah ataupun murah, kamu harus coba sedikit mengalah sama prinsipmu. Misalnya kamu makan di M*D atau K*C walaupun mungkin menunya dimasak dengan menggunakan minyak yang ada campuran babinya. Atau malah kamu ada di kota kecil dimana kamu gag mungkin nemuin restoran internasional disana, kamu cukup makan telur, seafood atau jadi pecinta sayuran alias vegetarian. Cukup gampang kan? Bahkan kalau kamu makan ayam, yang mungkin tidak disembelih sesuai agama atau dimasak dengan minyak babi, itu bukanlah masalah selama kamu gag pernah berniat lakuin itu ataupun memang cuma makanan itu yang tersedia di sekitarmu.
Kalau gag nemu kamu bisa makan itu selama kamu di kota besar
Jadi semua bisa dibuat mudah tanpa harus buat dirimu tersiksa kelaparan. Ingat, agama gag ngekang dan gag bebani kamu kok. Itu pendapat pribadi tapi mengingat seorang backpacker dengan dana terbatas tentunya harus mempertimbangkan keperluan lainnya selain makan. Daripada makan keluar uang banyak tapi kamu gag bisa beli tiket bis buat ke bandara, repot kan?
Jadi yuk bikin santai aja. Traveling jalan dan makan halal plus aman tetep jalan tanpa mengorbankan dompetmu yang tentunya memang udah tipis sejak kamu datang di bandara kan pastinya? hehehe 

Tuesday, 5 July 2016

Karena berbincang dengan sesama traveler lebih bermakna dari sekedar foto di tempat wisata

Traveling atau melancong memang suatu aktivitas yang menyenangkan. Siapa sih yang tidak suka melancong? Hampir semua orang suka pastinya. Sebenarnya banyak sekali manfaat dari melancong. Kamu bisa melihat tempat baru ataupun objek wisata yang ada. Disamping menikmati objek wisata, hal terpenting menurutku adalah interaksi dengan warga setempat.
Justru itu adalah hal yang tidak ternilai harganya mengingat kamu bisa berbincang banyak tentang apapun dan juga kamu bisa mendapatkan informasi tempat wisata tersembunyi yang mungkin yang tidak didapatkan di media sosial manapun. Bagaimana sih caranya berinteraksi dengan warga lokal? Memang aman? Percaya saja, di dunia ini banyak orang baik dan selama bisa jaga diri dan sikap dengan baik, tentu tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Coba deh praktikkan tips-tips ini :
1. Menginaplah di hostel atau dormitori
Ingat, jangan menginap di hotel! Alasan utama tentu saja karena harga yang akan menguras kantong. Selain itu tentu saja kamu akan lebih bisa berinteraksi dengan sesama traveler yang menjadi tamu hostel maupun penjaga hostel. Terlebih kalau kamu menginap di dormitori dimana kamu akan tidur dalam satu ruangan besar dengan beberapa atau bahkan puluhan orang disana. Percayalah, selama kamu bukan orang yang tertutup, kamu pasti bisa banyak tukar ide dengan sesama traveler yang sedang menginap.
Bunkstop Hostel di Jaipur
2. Gunakan jejaring sosial para traveling
Bisa jadi kamu malah menginap di rumah traveler lain dimana kamu bisa lebih leluasa berbincang dengan si tuan rumah meskipun kamu belum kenal lama. Selama kamu berpikiran terbuka, itu bukan masalah. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah. Kamu cukup menjadi member dari Couchsurfing dan berikan info akurat tentang dirimu di profilmu sehingga calon tuan rumah akan merasa yakin dan aman saat akan menyambutmu di rumahnya. Bahkan bisa juga si tuan rumah akan memberikan tumpangan atau traktiran selama kamu disana. Tapi ingat, gunakan situs itu untuk lebih mengenal dia dan warga lokal. Tumpangan gratis dan traktiran cuma bonus. Ingat itu bonus, jangan berharap lebih.
Bersama Vishwa, kawan Couchsurfing asal Hyderabad
3. Jangan ragu membuka topik pembicaraan
Disini bukan berarti kamu sok kenal dengan sesama traveler ataupun warga lokal, tapi ini menandakan kalau kamu orang yang terbuka dan ramah. Biasanya seorang traveler memiliki pandangan yang terbuka dan pastinya dia akan dengan senang hati berbincang denganmu. Kamu gag perlu bingung dengan topik, apapun yang ada seperti misalnya negara masing-masing, perjalanan ataupun destinasi selanjutnya bisa jadi topik pembuka yang menarik. Seandainya kamu menemui orang yang tidak tertarik dengan pembicaraanmu, kamu cukup pergi dan cari saja yang lain. Jangan terpaku sama satu dua orang. Tapi pengalaman pribadi, aku selalu bisa berbincang panjang lebar dengan sesama traveler maupun warga lokal. Jadi just try and feel the magic of new conversation!
Bertemu dua traveler asal Inggris di Pulau Penang
4. Coba ikuti kegiatan warga lokal
Kamu bisa saja mencoba gabung dengan NGO atau mungkin ada event disana. Gabung saja dan jangan malu karena kamu berniat baik. Pengalaman sewaktu di India, aku gabung dengan salah satu NGO dimana aku ikut membantu mengajar anak-anak yang kurang mampu selama sekitar 3 jam. Bukan masalah waktu, tapi aku justru merasa bersyukur bisa mengenal anak-anak yang kurang mampu dan berbincang dengan mereka. Meskipun mereka sama sekali tidak mengerti bahasa inggris, tapi bahasa universal yaitu senyuman cukup untuk membuat komunikasi tetap berjalan. Jadi tidak ada salahnya kamu sisihkan waktu untuk ikut kegiatan sosial selama traveling ataupun kegiatan apapun dimana kamu bisa mengisi waktu selain hanya untuk berburu foto di tempat wisata.
Mengajar anak-anak di sebuah NGO di Jaipur

5. Makan bersama warga lokal
Mungkin banyak diantara kamu yang belum terpikir untuk melakukan hal itu, tapi ini adalah hal biasa buat mereka para traveler asal negara barat. Mereka terbiasa mencicipi makanan lokal bahkan tak jarang mereka makan satu meja walaupun terhalang masalah bahasa. Percayalah, kamu gag perlu takut selama kamu tahu apa yang kamu makan. Setelah makan tentu kamu bisa bicara banyak dengan dia tentang makanan atau restoran dengan harga murah yang bahkan kamu gag temukan di buku panduan wisata.
Menikmati objek wisata tentu adalah salah satu list utamamu, tapi cobalah tips itu. Perjalananmu sebaga seorang traveler tentu akan menjadi lebih berasa dan bermakna karena kamu akan lebih mengenal karakter orang sana, lokasi wisata yang gag biasa dan bahkan bonus-bonus lain yang bisa kamu dapatan disana.
Makan bareng driver bajaj di kedai nasi briyani di Jaipur

Aku pribadi pun merasa, esensi dari traveling bukanlah berfoto di depan ikon suatu kota atau negara, tapi adalah bagaimana kita bisa membuka pikiran dengan hal dan suasan baru yang belum pernah kita temui sebelumnya. Hal yang paling aku nantikan saat sedang traveling atau melancong adalah berbincang di hostel ataupun di pinggir jalan hingga larut malam. Disitulah aku merasa bodoh dan bangga. Bodoh karena aku ternyata baru mendapatkan hal baru yang tidak terpikirkan sebelumnya dan aku merasa bangga karena secara gag langsung aku bisa mengenalkan wisata negeriku sendiri.
Jadi kalau aku sudah merasakan nikmatnya, mau kamu coba? Kamu gag akan tau kalau belum coba. Jangan hanya mengejar foto di tempat wisata karena foto bisa dibuat pakai software, tapi kalau perbincangan hangat dan menarik dengan sesama traveler akan jadi kenangan apalagi kamu tetap berhubungan dengan mereka. Kamu siap? Dapat ide baru dan tentu relasi baru dari sesama traveler? Come on yeaaaaah!

Saturday, 25 June 2016

Jaipur, i love this city!

Mungkin inilah kota favoritku selama 2 minggu keliling India. Jaipur. Ibukota negara bagian Rajashtan ini masuk salah satu kota tujuan wisata di India dan juga segitiga emas india yaitu Delhi-Agra-Jaipur. Disinilah aku melanjutkan perjalanan selama 3 hari tanpa rencana yang jelas. Yap! Inti dari sebuah perjalanan bukanlah rencana tapi bagaimana kita menikmatinya.
Perjalanan diawali dari Agra dengan kereta yang dijadwalkan berangkat jam 6.30. Bulan itu India sedang musim dingin dan jangan tanya betapa dinginnya saat menunggu kereta di stasiun. Ternyata kereta telat hingga jam 10.30. Benar-benar rekor dibandingkan kereta di negeriku sendiri. Menunggu sekitar 4 jam dengan suhu 10°C adalah hal yang seharusnya bisa dilewatkan di hostel sambil tidur nyenyak, tapi inilah perjalanan yang penuh kejutan dan aku harus menikmatinya. Yeay!
Begitu kereta datang, segera aku masuk ke dalam untuk menghangatkan badan, meskipun suhu pun juga mulai menghangat mengingat hari sudah siang. Lagi-lagi di kereta aku bertemu dengan sesama traveler asal Korea dan Belanda dimana kami langsung membaur satu sama lain meskipun gagal (lagi) mendokumentasikan pertemuan singkat di kereta. Perjalanan berlangsung selama 5 jam dan sampailah di Jaipur di sore hari. Dari stasiun aku langsung menuju hostel menggunakan bajaj.
Begitu sampai hostel, aku sempat gag percaya lihat kondisi hostel yang aku pesan seharga 350 rupees/ malam (70.000IDR) karena bangunan yang baru dan terasa terlalu murah untuk harga segitu. Inilah kejutan lain dalam perjalanan yang aku dapat. Staff hostel juga ramah dan cukup bisa berbahasa inggris, bahkan tak segan dia mengajariku beberapa kata bahasa hindi. Hahaha ap kaa nam kyaa hae? Yaa kyaa hae?
Hostel murah tapi mewah

salah satu sudut hostel

Hari pertama hanya dihabiskan untuk berjalan di sekitar hostel sambil menikmati makan malam seharga 50 rupees (murah meriah) yang tentunya makan di pinggir jalan. Hari kedua aku baru teringat kalau agenda hari itu adalah aku harus menuju ke NGO teman CS, Nitin, setelah dia menanyakan kabar melalui whatsap. Setelah tanya kesana kemari mengenai transportasi termurah, akhirnya kuputuskan naik bus kota (mirip seperti di indonesia dan bisa naik turun dari mana saja). Setidaknya target naik segala macam transportasi tercapai. Mission completed! Hahaha
kondisi yang cukup memprihatinkan

Saksham, NGO yang patut diacungi jempol!


Begitu sampai di NGO, aku langsung bertemu dengan Nitin dan beberapa CS-ers asal Polandia. Kami langsung bergegas melihat beberapa bangunan yang memang dibuat untuk aktivitas NGO. Seperti pemberian rutin susu untuk ibu hamil, kelas menulis dan menghitung untuk anak-anak dan ibu-ibu kurang mampu. Aku merasa beryukur karena perjalanan ke India akhirnya menemukan sebuah titik dimana aku tidak hanya berkunjung ke objek wisata tapi juga memiliki makna sosial (karena ke jaipur juga belum ada rencana mau kemana hehehe).
Nitin bersama anak-anak tampak semangat menyanyi

Disini aku mendapatkan kesempatan untuk mengajarkan anak-anak menggambar, menulis dan menghitung. Dan meskipun cuma sekitar 3 jam disini, aku pun merasa sangat puas karena setidaknya bisa memberikan sesuatu yang baik kepada anak-anak yang kurang mampu ini. Terkadang mereka bermain-main dengan kamera maupun ponselku dan Nitin pun menyuruh mereka untuk tidak memainkannya. Namun justru itu aku membiarkannya. “Let them happy Brother, it’s okay.”
Wajah-wajah penuh semangat dari mereka

Mungkin gambar mereka tidak seberapa, tapi semangat untuk belajar tetap membara

Senyum puas dari hasil gambar mereka

Waktu yang terlalu singkat pun berakhir pada jam 13.00 saat aku harus meninggalkan area karena memang Nitin punya agenda lain hari itu. Aku pun berterimakasih karena sudah diberi kesempatan singkat disini. Semoga nanti aku bisa bertemu anak-anak itu dalam kondisi yang lebih baik!
Sepulang dari NGO, aku melanjutkan perjalaan menuju Pink City menggunakan bajaj. Sesampainya disana, memang pemandangan sangatlah unik dan berbeda. Warna pink terpancar dari setiap bangunan dan membuatnya memang pantas dijuluki Pink city. Disinilah Hawa Mahal yang merupakan bangunan ikonik di kota ini. Tapi lagi-lagi aku memilih untuk tidak masuk karena harga tiket yang cukup mahal hehehe.
Hawa Mahal yang menjadi ikon Jaipur

Bangunan berwarna pink sehingga dijuluki Pink City

Karena aku tidak tahu lagi objek wisata yang murah ataupun gratis, aku putuskan buat kembali ke hostel jalan kaki. Ya jalan kaki sambil menikmati pemandangan negeri orang merupakan hal favoritku. Bermodalkan GPS ataupun cukup tanya orang di jalan sudah bisa mengantarku hingga sampai ke hostel. Ya! Berjalan santai sudah cukup membuat bahagia. Dan hari itu pun aku tutup buat berjalan keliling mall dekat hostel untuk sekedar cuci mata. *baru di kota ini aku bisa cuci mata, mungkin karena orang-orangnya ada turunan dari Iran* hahaha stereotip!
Hari ketiga atau hari terakhir aku punya beberapa jam untuk berjalan-jalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Mumbai dengan kereta. Untungnya aku sudah janjian dengan driver Bajaj, Reehan, yang akan mengantar ke beberapa objek wisata murah di Jaipur ini dengan tarif 350 rupees saja. Tepat jam 9.00 si driver datang dan ternyata dia cukup ramah sehingga aku bisa santai di perjalanan sambil ngobrol ngalor ngidul dengan dia.
Tujuan hari itu adalah museum Jaipur, museum Maharaja di perbukitan dan sebuah bangunan di tengah danau (yang lupa namanya). Total dari ketiga tempat itu aku hanya bayar 30 rupees. Memang seorang backpacer harus memikirkan dana seefektif mungkin. Selepas dari mengunjungi ketiga bangunan itu, Reehan mengantarku ke sebuah toko souvenir dimana aku akhirnya membeli beberapa kartu pos untuk sekedar buah tangan saja.
Jaipur Central Museum

Burung merparti berterbangan di depan museum

Pengunjung di Maharaja Museum

Maharaja Museum yang terletak di perbukitan

Jaipur dari perbukitan

Sebuah bangunan di tepi danau di Jaipur


Merasa lapar, akhirnya aku minta Reehan untuk mengantarkanku ke sebuah kedai makan yang enak tapi murah meriah dan aku hampir tidak percaya saat dia mengantarku ke warung nasi briyani seharga 30 rupees. What?? Bahkan nasi yang semurah itu dihidangan hangat karena memang dimasak saat itu juga. Tanpa pikir panjang aku memesan 2 porsi dan menikmati nasi briyani bersama Reehan di dalam bajaj karena memang tidak ada tempat duduk kosong saat itu. Alhamdulilah. Rasa bersyukur kembali hadir karena aku tidak perlu mengeluarkan banyak uang, bisa ngobrol banyak dengan Reehan dan makan nasi briyani yang nikmat ini. Inilah poin plus dari backpacker, makan bareng supir bajaj! hahaha Dan perjalanan akhirnya harus berakhir di stasiun jaipur karena aku harus melanjutkan perjalanan ke Mumbai. Disini Reehan berpesan kalau ada teman Indonesia yang sedang ke Jaipur, disarankan untuk hubungi dia. I will keep my word Brother! Aku pasti akan menyarankan kawan untuk menggunakan jasa bajajmu.
Makan nasi briyani bareng


Berakhirlah perjalanan di Jaipur sekaligus India karena aku hanya akan menghabiskan waktu sehari di Mumbai juga tanpa rencana. Good bye Jaipur! I love this city!

Saturday, 14 May 2016

Agra yang berselimut kabut dan tetap menawan

Agra. Kota dimana Taj Mahal berada.Tepat sekali, tujuanku ke Agra salah satunya adalah mengunjungi salah satu kejaiban dunia itu. Menggunakan kereta dari Delhi menuju Agra selama 3 jam adalah cara termudah dan termurah tentunya. Di dalam kereta, aku bertemu dengan sesama solo traveler asal Korea Selatan dan tentunya kami banyak ngobrol tentang traveling.
“The meaning of traveling is to find someone and somewhere new which makes our perspective bigger than before, isn’t it?”
Well, sampailah aku di stasiun Agra (Agra Station) dan langsung disambut para supir tuk-tuk dengan tawaran-tawarannya. Aku yang sempat menolak, akhirnya luluh juga karena ternyata Taj Mahal berjarak 10 km dari stasiun. Harapan untuk jalan kaki menuju Taj Mahal dan mencari penginapan sekitarnya pupus sudah. Aku putuskan untuk menggunakan tuk-tuk. Aku diturunkan di south gate of Taj Mahal atau daerah gerbang selatan, dan tentunya si supir langsung mencarikan penginapan. Sepertinya dia juga menginginkan komisi karena sudah membawa tamu. Tapi aku tak terlalu pedulikan karena pada akhirnya aku meminta diskon penginapan dari harga 600 Rupees/malam jadi 500 rupees. Bukan backpacker kalau tidak berusaha mencari harga semurah mungkin hahaha. Satu kata untuk Agra di hari itu: Berkabut! Ya bulan januari adalah musim dingin dan tentunya kabut menyelimuti kota. Aku ternyata salah perkiraan, tapi apa daya, mari tetap lanjutkan! Sore itu juga aku langsung berkunjung ke Taj Mahal dengan harapan bisa membayar tiket lokal seharga 25 rupees. Sayangnya wajah tak bisa menipu dan aku harus membayar harga turis sebesar 750 rupees *oh d*amn!! Hahaha. Tapi tak apa lah, ada kalanya aku dapat harga murah, ada kalanya harga mahal. Ternyata aku datang di waktu yang salah karena saat itu sedang musim dingin dan berkabut sehingga Taj Mahal tidak terlihat jelas dan juga pengunjung sangat ramai. Tidak cuma berkabut tapi juga sedang dalam renovasi sehingga sempat menyesal.Tapi toh bersyukur saja karena kapan lagi aku kesini.
Denah Taj Mahal

Pintu gerbang masuk Taj Mahal

Taj Mahal yang berkabut

Taj Mahal ternyata sangat besar. Makam istri dari Syah Jahan memang terbuat daru bahan material nomor satu di masa itu dengan dekorasi yang sangat mengagumkan. (Ingat, Taj Mahal kelihatan seperti Masjid padahal itu adalah makam). Meskipun makam, bukan berarti Taj Mahal seram karena banyak sekali pengunjung disana dan juga kebersihan dijaga. Saat akan berfoto pun aku cukup kesulitan dan akhirnya selfie ria lah untuk dokumentasi kalau pernah berkunjung. (Tips : jangan meminta bantuan foto pada orang asing disini, karena bisa jadi mereka akan membawa kabur kamera)
Dokumentasi di Taj Mahal

Mahakarya dari batu marmer yang megah

Puas mengelilingi, aku pun pulang ke penginapan dan bersiap untuk hari esok untuk berkunjung ke beberapa objek dengan supir tuktuk yang sama seperti yang mengantarku ke hotel *tips : sudah dicarter dengan harga pas*.
Keesokan harinya,aku akhirnya berangkat menuju Agra Fort, Mehtab Bagh dan Baby Taj Mahal. Hanya 3 itu saja mengingat keterbatasan biaya *maklum aku bukan turis kaya*. Destinasi pertama yaitu Agra Fort atau benteng Agra yang serba berwarna merah. Tiket seharga 250 rupees membuat nyaliku ciut untuk masuk hehehe. Dan aku putuskan untuk sekedar berfoto di depan dan sekitarnya. Cukup cantik dari luar dan tentunya akan jauh lebih cantik kalau masuk ke dalam.
Suasana di pintu masuk Agra Fort yang memang berwarna merah

Sisi lain dari Agra Fort

Jarak ke objek wisata lain di depan Agra Fort

Patung Amar Singh, prajurit di masa Syah Jahan

Selanjutnya adalah Baby Taj Mahal. Perjalanan menuju Baby Taj Mahal cukup lama karena macet. Jangan kaget dengan macetnya Agra atau tentunya India. Klakson dimana-mana dan berisik tapi itulah serunya mengenal budaya yang berbeda disini. Tiket seharga 100 rupees terasa cukup masuk akal dan aku putuskan untuk masuk. Memang sangat mirip dengan Taj Mahal aslinya, hanya saja ini miniaturnya dan lebih sepi tentunya. Disinilah aku merasakan ketenangan dan sedikit lebih menikmati keindahan yang ada karena suasanya yang tidak terlalu ramai.
Macet yang sudah biasa
Minatur Taj Mahal hanya lebih kecil dan sepi

Ada juga dua makam di dalamnya

Sejenak beristirahat menikmati keindahan bangunan ini

Destinasi terakhir yaitu Mehtab Bagh atau view Taj Mahal dari belakang. Tiket masuk juga sebesar 100 rupees dan aku akhirnya membelinya.Taj Mahal terlihat jelas dari bagian belakang, yang hanya dipisahkan oleh sungai Yamuna. Tempat ini sebenarnya hanya taman biasa, tetapi berhasil dimanfaatka menjadi objek wisata dengan adanya Taj Mahal sebagai backgroundnya. Aku pikir ini kreatif!! Indonesia harusnya bisa memanfaatkan banyak hal semacam ini, seperti misalnya adanya tempat wisata dengan background candi Borobudur (punthuk Setumbu).
Suasana Mehtab Bagh yang cukup sepi dan berkabut

Taj Mahal yang terlihat seperti ilusi karena kabut

Akhirnya perjalanan diakhiri dengan makan siang di restoran yang cukup mahal menurutku (briyani chicken 280 rupees) tapi apa daya, si supir sudah mengantarku kesini. Perjalanan dilanjutkan menuju tempat souvenir dan akhirnya pulang ke hotel jam 3 sore. Sebenarnya aku ditawari untuk melanjutkan ke Fatehpur Sikri yang cukup bagus,tapi aku menyerah karena kantong yang sudah tidak bisa diajak kompromi. Sore hari aku manfaatkan untuk ngobrol dengan warga sekitar di warung the *chai*. Untungnya ada salah satu warga yang bisa bahasa inggris dan kami pun saling mengenal negara masing-masing. Hari itu pun ditutup dengan salah seorang warga yang berterima kasih sekali karena aku berikan koin sebesar 500 rupiah sebagai souvenir dari Indonesia. “Thank you Brother, it is not the number but it goes to my heart.” Aku pun terharu mendengarnya. Karena aku merasa dia mengucapkan itu dengan tulus. Semoga kita berjumpa lagi nanti pak! Sukses buat anda selalu! keesokannya aku mulai persiapkan diri untuk menuju Jaipur.Cukup 2 hari mengunjungi Agra yang berkabut saat itu tapi tetap menyimpan kecantikan dari Taj Mahal dan Agra Fort tentunya. See you Agra!!

Saturday, 30 April 2016

Sehari keliling Delhi bersama kawan CS

Hari selanjutnya diagendakan khusus untuk ke objek wisata di Delhi. Rencana awal adalah menggunakan bus keliling kota dengan tarif seharga 300 rupee. Namun tawaran itu segera aku tolak mengingat seorang kawan dari CS (Couch Surfing)dari Kanada, Arian, yang kebetulan juga solo traveling ingin mengeliling Delhi barengan. OK, tentu itu yang ak ambil mengingat budget yang akan dikeluarkan jauh lebih sedikit. Kami yang belum pernah bertemu sebelumnya, janjian untuk ketemu di stasiun utama Delhi (sayangnya tidak ada foto kami berdua). Hahaha disinilah konyolnya dimana kami harus menunggu selama 2 jam untuk berputar-putar mengingat adanya miskomunikasi antara kami berdua. Hingga akhirnya aku putuskan untuk bertemu di tourism info bureau di lantai 2 stasiun. Bagaimanapun dia pasti menemukanku. Well dan akhirnya kita bertemu, ngobrol sejenak dan siap mengelilingi ibukota.
Rencana awal bertemu dan gagal

Tempat kami bertemu di Tourism Info Bureau

Sayangnya waktu yang sudah menunjukkan pukul 12 membuat kami tidak bisa mengunjungi banyak destinasi dan akhirnya kami putuskan ke Qutb Minar, sebuah peninggalan muslim di masa lampau. Kami hanya bermodalkan gps dan menggunakan metro menuju kesana dan menghindari naik bajaj untuk meminimalkan budget. Sampailah kami di Qutb Minar dan aku mencoba membeli tiket dengan harga lokal anya 10 rupee, bandingkan dengan tiket untuk turis sebesar 250 rupee. Oh my God! Dan aku berhasil membeli 2 tiket dengan harga 20 rupee. Hanya menyodorkan uang sebesar 20 rupee dan bilang
“Bhaiyaa, doo ticket”.
Yang artinya “Brother, two tickets”. Karena banyak warga lokal menganggap aku orang India, akhirnya aku manfaatkan aja trik ini. That was my lucky day!!
HTM seharga 10 rupee

Kami akhirnya berjalan mengitari Qutb Minar melihat-lihat kemegahan bangunan yang dibuat di masa lalu. Sebagian besar hanyalah terbuat dari batu, tetap saja aku merasa bersyukur melihat salah satu karya seni yang masih dijaga hingga sekarang.
dulunya bernama Masjid Quwwatul Islam
kombinasi reruntuhan menara dan kubah
Makam yang masih terawat
Kaligrafi yang mengagumkan

Qutb Minar mungkin terlihat seperti reruntuhan benteng dari kejauhan tapi bagaimanapun juga ini merupakan salah satu perjalanan historis untuk sejenak melihat kejayaan peradaban muslim di India di masa lampau. Selepas dari sana, kami kebingungan mencari destinasi selanjutnya. Setelah berbicang sejenak dengan Arian, kami putuskan menuju Humayun’s Tomb. Kali ini kami gunakan bajaj karena harga yang cukup murah. Namun disinilah kami hampir dijebak karena kami diantar menuju toko souvenir (seperti di Bangkok). Kami putuskan hanya melihat sejenak tanpa membeli satupun. Hehehe kami tidak punya agenda untuk membeli souvenir maupun perhiasan.
Sesampainya di stasiun metro akhirnya kami putuskan untuk berjalan ke gedung parlemen India karena waktu yang semakin sore. Sayangnya hari itu berkabut dan kami tidak bisa melihat dengan jelas. Bahkan India Gate yang merupakan salah satu ikon India ditutup karena sedang ada suatu acara. Mungkin kami memang sedang tidak beruntung.

Baiklah kami nikmati saja pemandangan lalu lintas di sekitar gedung parlemen yang tidak seramai jalanan Delhi pada umumnya.
kabut menyapa sore hari di parlemen India
Lalu lintas yang tidak terlalu padat di parlemen

Untuk menutup hari, kami berkunjung ke Khan Market, salah satu pusat oleh-oleh di Delhi. Tentu saja dengan cukup berjalan kaki. Kami hanya sejenak melihat pasar ini dan tidak juga muncul keinginan untuk membeli barang apapun karena kantongku sendiri pun memang tidak disediakan untuk itu. Pakaian, makanan, bahkan kain banyak dijual disini. Sayangnya untuk makanan, sangat jarang makanan khas Delhi maupun India. Kebanyakan makanan yang ada merupakan impor dari timur tengah.
salah satu sudut Khan Market

Selama dua jam kami berkeliling di Khan Market akhirnya kami kembali ke stasiun Delhi kembali menggunakan metro. Dan disinilah kami berpisah karena aku merasa cukup lelah dan Arian masih ingin mencari tiket kereta menuju Jaipur. Agendaku sendiri adalah melanjutkan ke Agra dan Jaipur adalah 3 hari lagi. Kami pun berpisah tanpa sempat berfoto bersama kamera maupun HP kami sudah kehabisan daya baterai. Bagaimanapun aku belajar banyak dari Arian, solo traveler selama 4 bulan. Hope to see you again someday brother! Thanks for one amazing day with you!