Monday, 21 September 2015

14 Jam demi mencapai Ujung Timur Pulau

Banyuwangi. Kota yang dahulu hanya dikenal sebagai tempat penyeberangan dari Jawa menuju Bali atau sebaliknya, kini menjadi semakin dikenal bahkan namanya mulai mendunia. Lokasinya yang berada di ujung timur pulau jawa tidak menyurutkan niat wisatawan dari berbagai daerah bahkan dari berbagai penjuru dunia untuk menyambanginya. 
Sekarang ini Banyuwangi yang cukup dikenal dunia, mengandalkan beberapa tempat wisata andalannya mulai dari gunung, hutan maupun taman nasional dan laut atau pantai. Jadi akan terasa lengkap apabila mengunjungi kota ini jika diibaratkan mulai dari pegunungan, menuruni hutan hingga berakhir di tepian samudera. Tentu saja magnet utama yang dimiliki daerah ini kawah Ijen dengan api birunya. Penasaran dengan api biru? Sebenarnya adalah pembakaran belerang yang menghasilkan warna biru. Yang membuat Ijen terkenal adalah api biru ini hanya terdapat dua di dunia salah satunya di kawah Ijen ini dan hanya bisa dilihat pada dini hari. Karena begitu fajar menyingsing, api biru akan segera kelihatan bersamaan dengan asap belerang yang mulai memenuhi area kawah.
Melihat menawannya Banyuwangi membuat kami segera merencanakan perjalanan menuju kesana. Kami tidak banyak membuat itinerary karena hal itu justru bisa membuat kecewa kalau tidak kesampaian. Kami putuskan untuk berangkat menggunakan kereta api dari Jogja menuju Banyuwangi selama 14 jam. Perjalanan yang cukup panjang untuk dilalui tetapi sebenarnya murah karena harga tiket yang hanya sebesar 100 ribu rupiah. Akhirnya kami bertiga (aku, mbob dan sentid) berangkat bersama pada tanggal 14 September 2015 dari stasiun Lempuyangan. 
Rp 100.000 untuk 14 jam
Ternyata kami mendapat kabar baik karena kawan kami yaitu Harry yang bekerja di Banyuwangi bersedia memberikan tumpangan selama disana.  
Perjalanan berjalan lancar walaupun di tengah perjalanan sempat berbincang dengan sekelompok orang dengan pakaian  semacam Jubah yang belakangan aku ketahui dari Bangladesh. Aku sendiri sempat merasa was-was karena selama pembicaraan, mereka hanya fokus pada dakwah dan dakwah. Hal ini karena adanya kengerian terhadap radikalisme yang makin merajalela. Beruntung mereka segera turun di Surabaya, untuk kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi.
Dan akhirnya, taraaa kami sampai di stasiun Karangasem banyuwangi, satu stasiun terakhir sebelum staisun paling timur, yaitu Banyuwangi Baru tepat waktu pada jam 21.15
Tepat jam 9.15 malam

Rumah Singgah Backpacker Banyuwangi

Sesampai di Banyuwangi, ternyata sudah dijemput Harry, yang memang sudah sekitar 2 tahun bekerja disana. Kami merasa berterimakasih atas sambutannya (I really appreciate for your kindness boy ). Awalnya kami berniat beristirahat di rumah singgah backpacker yang terletak tepat di depan stasiun Karangasem, jalan kaki pun hanya butuh waktu satu menit. Tapi apa boleh buat rejeki melalui kawan kami Harry memang tak baik ditolak hehehe
Akhirnya kami beristirahat sejenak melepas lelah setelah melakukan perjalanan 14 jam ditemani dengan beberapa orang Bangladesh yang cukup ngeri, sembari berbincang setelah sekian lama tidak berjumpa. Dengan merencanakan esok hari untuk segera mengeksplor kota yang terletak di ujung timur ini. 14 jam kami di gerbong kereta demi mencapai area ini usai sudah.
Here we go Banyuwangi!!

#travelling #local #Banyuwangi

No comments:

Post a Comment