Monday, 21 September 2015

Ijen-Baluran dalam sehari

Inilah maskot utama dari Banyuwangi. Ijen dan Baluran. yapp! 
Api biru. Ya itulah yang menjadi alasan kami untuk mengunjungi Banyuwangi. Kami ingin melihat api biru dengan mata kepala sendiri. Demi mendapatkan ini kami harus siap resikonya. Yaitu berangkat tengah malam untuk mulai naik ke kawah sekitar jam 1 dini hari. Aroma dingin bahkan membeku sudah terasa sekali jauh sebelumnya karena kami harus berangkat dengan motor menuju Paltuding, atau pos pendakian kawah Ijen (lebih disarankan untuk sewa mobil atau share cost)

Kami berangkat jam 12 malam dan sampai di Paltuding jam 1.30. Udara yang sangat dingin seolah tidak perlu lagi dihiraukan. Untungnya jalanan menuju Paltuding sangat mulus sehingga kendaraan bisa melaju dengan kecepatan yang diinginkan. Sesampainya disana, kami langsung membeli tiket masuk dan mulai pendakian. Perlu diingat bahwa pendakian berlangsung sekitar 2,5-3 jam akan tetapi banyak pendaki yang naik, terutama para bule yang penasaran dengan api biru. 

Blue Fire dari atas
Sesampai di tepian kawah, akhirnya kami dapat melihat api biru dari atas karena kami memang tidak turun ke kawah dengan alasan keamanan. Sebenarnya bisa saja turun tetapi karena kami hanya menggunakan masker biasa jadi lebih baik kami tidak turun. Api biru bisa dilihat mulai jam 3 sampai menjelang subuh. Kami sempat beristirahat meskipun merasa kedinginan terutama saat fajar menyingsing. Saat itulah adalah saat terdingin di kawah Ijen. Setelah itu api biru perlahan menghilang sejalan dengan meningkatnya asap belerang yang menutupi kawah dan kami pun melanjutkan perjalanan turun.
 
Asap belerang memenuhi kawah selepas fajar
Hal unik yang mungkin hanya ada disini adalah adanya penambang belerang tanpa perlengkapan keamanan yang memadai. Bahkan stamina mereka sangat kuat karena sekali bisa membawa puluhan kilogram belerang sekali angkat. Super!

Satu muatan bisa lebih dari 60 kg
Sesampai di bawah kami sempatkan sarapan di warung lalu melanjutkan perjalanan menuju taman nasional Baluran yang sebenarnya terletak di area Situbondo, meskipun orang banyak menyebutnya berada di area Banyuwangi karena lokasinya memang tidak jauh dari perbatasan. Karena merasa lelah dan mengantuk, kami istirahat dahulu di rest area selama 1 jam lalu melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan yang dilakukan melintasi tepi pantai bahkan bisa disebut sebagai jalan raya paling timur di pulau jawa. Kami sempatkan berfoto di watu dodol yang terletak tepat di tepi laut.
Watu Dodol
Bahkan kami juga sempatkan untuk singgah ke stasiun Banyuwangi Baru, alias stasiun terakhir di Pulau Jawa karena letaknya di ujung timur, tepat di depan pelabuhan penyeberangan Ketapang.
Stasiun terakhir di Pulau Jawa
Tiket masuk sebesar Rp 15.000 per orang mengantarkan kami untuk segera masuk menyusuri jalan yang berbatu seperti halnya perjalanan menuju pantai Teluk Ijo. Kami harus melewati jalan selama 13 km sebelum mencapai padang rumput atau sering dikenal dengan nama savana Bekol. Savana Bekol ini terlihat sangat luas bahkan sangat mirip dengan savanna yang ada di Afrika mengingat pepohonan yang tumbuh di sekitarnya dengan latar belakang gunung Baluran.


Jalanan Baluran yang terjal tapi datar

Ikon Baluran
Sunset di Savana Bekol

Perjalanan kami lanjutkan menuju pantai Bama yang merupakan ujung dari Baluran ini. Akhirnya kami temukan pantai yang tenang dengan beberapa penginapan yang tersedia. Disamping itu terdapat pula hutan bakau di pinggir pantai yang membuat suasana pantai terasa sangat nyaman dan menyenangkan sebagai tempat bersantai. Ditambah dengan ombak yang tenang membuat suasana sore itu terasa sangat hening. Menjelang malam kami putuskan untuk segera kembali ke Banyuwangi untuk beristirahat dan bersiap untuk pulang keesokan harinya.
Ujung perjalanan di Pantai Bama
Akhirnya perjalanan kami berakhir disini setelah selama dua hari kami menjelajah pantai, gunung dan hutan maupun taman nasional. Merahnya pulau, hijaunya teluk dan birunya api berakhir dengan sensasi ala Afrika yang disuguhkan taman nasional Baluran. Cukuplah dalam sehari di hari kedua ke Ijen dan Baluran.
Malam sebelum pulang pun kami sempatkan berkunjung dan singgah di rumah singgah backpacker Banyuwangi yang ada di depan stasiun Karangasem (jalan kaki hanya 1 menit). Disini kami bertemu kawan sesama backpacker untuk saling berbagi cerita tentang perjalanan masing-masing, bahkan kami saling memberikan tips-tips khusus terkait travelling. Dan esok harinya kami melanjutkan perjalanan 14 jam dengan kereta Sritanjung ke Jogja.
Rumah Singgah Backpacker Banyuwangi
Perjalanan jelajah Banyuwangi dalam dua hari memberikan kami rasa syukur karena negeri ini masih memilki alam luas nan indah. Semoga masih akan terjaga sehingga generasi berikutnya bisa menikmati apa yang telah kami nikmati sekarang ini.

#travelling #local #Banyuwangi #Ijen #Baluran #Backpacker

Merahnya Pulau dan Ijonya Teluk

Hari pertama di Banyuwangi kami agendakan untuk berkeliling ke beberapa pantai yang ada. Kami sengaja menunda untuk mencari api biru karena kami lebih memilih pantai dahulu baru api biru di kawah Ijen. Setelah diskusi akhirnya kami putuskan ke pantai pulau merah dan pantai teluk ijo (ijo dalam bahasa indonesia berarti Hijau). Lalu dilanjutkan kawah Ijen dan taman nasional Baluran yang mulai tengah malam nantinya.
Taraaa Let’s go!
1. Pantai Pulau Merah
Adanya pulau merah menjadi asal usul nama pantai
Pantai ini cukup dikenal karena telah menjadi tempat untuk berbagai event internasional. Bahkan di akhir September yang tentunya kami sudah tidak disana akan diadakan kompetisi selancar internasional. Disebut pulau merah karena adanya pulau merah berupa gundukan tanah dengan rimbunan popohonan di pantainya. Hal ini menambah keindahan pantai ini. 

Selamat datang di Pantai Pulau Merah








Jarak pantai ini hanya sekitar 60 km kearah selatan. Dapat ditempuh dengan kendaran pribadi maupun kendaraan umum. Karena kami menyewa motor, maka kami tempuh selama 2 jam melewati perkampungan dan pedesaan yang masih asri dengan mengandalkan GPS. Tapi tanpa GPS pun tidak akan tersesat karena petunjuk jalan ke pantai ini  sudah tersedia bahkan puluhan kilometer dari pantai. Jalanan aspal yang mulus tidak menjadi hambatan berarti sehingga perjalanan lancar selama sekitar 2 jam. 
Sesampainya disana kami bersantai sejenak di kursi payung yang disediakan. Kami cukup membayar 20 ribu selama sejam bersantai. 

Bersantai di beach chair set sembari melepas lelah

Inilah Pulau Merah itu 

Deretan beach chair set yang sepi

Pantai yang indah seakan membuat kami ingin melewatkan siang hari dengan tidur di tepiannya. Namun karena itu adalah hari selasa maka pantai terlihat sepi, karena seperti pantai lainnya, pantai ini akan ramai pada akhir pekan maupun hari libur.
Sayangnya pantai sepi karena hari kerja

2. Pantai Teluk Ijo
Pantai yang dikenal juga dengan nama Green Bay Beach ini belum memiliki nama sementereng Pantai Pulau Merah. Akan tetapi lokasinya yang lumayan terpencil membuat rasa lelah hilang seketika mencapai bibir pantai dan menikmati hembusan ombak yang menyapu tepian pantai. 
Sebenarnya pantai ini hanya berjarak sekitar 25 km dari Pulau Merah, akan tetapi jalanan yang menantang membuat waktu tempuh menjadi lebih lama. 
Sangat direkomendasikan untuk menggunakan mobil karena dengan motor, perjalanan menjadi lebih lama dan kurang nyaman karena berkali-kali motor harus aspal rusak, kerikil bahkan batuan kecil.
Kami melewati area PTPN XII hingga akhirnya masuk ke perkampungan yang dengan jalanan cukup rusak mengantarkan kami ke pantai Teluk Ijo. Bahkan kami sempat melalui jembatan sepanjang kurang lebih 100 meter dengan konstruksi kayu yang cukup menegangkan saat kami melintas di atasnya. Akan tetapi disinilah serunya.
Jembatan Kayu yang cukup ngeri untuk dilintasi
Akhirnya sampai juga kami di pantai. Pemandangan cantik sepanjang pantai seolah membayar lunas. Sesampai di pantai ini, seperti biasa kami ambil gambar untuk dokumentasi lalu bersantai sejenak. Kami tak bisa berlama-lama karena kami harus segera pulang untuk menghindari malam di jalanan pulang.




Akhirnya dalam satu hari kami hanya dapat 2 pantai. Tapi trust me it is totally worth. Semuanya mantap. Perjalanan mulus ke Pulau Merah lalu dilanjutkan perjuangan menaklukkan jalan rusak ke Teluk Ijo. Totally satisfied!!
Setidaknya kami bisa menikmati merahnya pulau dan hijaunya teluk dalam satu hari ini. Lalu kami lanjutkan perjalanan pulang untuk menyiapkan diri demi perburuan api biru dini hari nanti..
NB: kalau mau mengunjungi 2 pantai ini, sediakan waktu 1 hari, dan usahakan sampai di pantai Teluk Ijo jam 2 jadi masih bisa bersantai setidaknya sampai jam 4, kalau tidak ingin terjebak malam di perjalanan.
Itinerary yang bisa digunakan (kendaraan pribadi, maaf kemaren tidak naik angkot, bisa sewa motor/mobil) :
Start dari kota jam 8 pagi, perjalanan 2 jam. Habiskan waktu 2 jam di Pulau merah lalu berangkat lagi jam 12 untuk kemudian sampai di Teluk Ijo jam 2. Ada waktu sekitar 2 jam untuk menikmati sebelum jam 4, lalu melanjutkan perjalanan pulang. 
Alternatif lain adalah pantai Plengkung yang cukup terkenal tapi kami tidak sempat kesana.
Enjoy Banyuwangi Beach yohooooo !!

#travelling #local #Banyuwangi #beach

14 Jam demi mencapai Ujung Timur Pulau

Banyuwangi. Kota yang dahulu hanya dikenal sebagai tempat penyeberangan dari Jawa menuju Bali atau sebaliknya, kini menjadi semakin dikenal bahkan namanya mulai mendunia. Lokasinya yang berada di ujung timur pulau jawa tidak menyurutkan niat wisatawan dari berbagai daerah bahkan dari berbagai penjuru dunia untuk menyambanginya. 
Sekarang ini Banyuwangi yang cukup dikenal dunia, mengandalkan beberapa tempat wisata andalannya mulai dari gunung, hutan maupun taman nasional dan laut atau pantai. Jadi akan terasa lengkap apabila mengunjungi kota ini jika diibaratkan mulai dari pegunungan, menuruni hutan hingga berakhir di tepian samudera. Tentu saja magnet utama yang dimiliki daerah ini kawah Ijen dengan api birunya. Penasaran dengan api biru? Sebenarnya adalah pembakaran belerang yang menghasilkan warna biru. Yang membuat Ijen terkenal adalah api biru ini hanya terdapat dua di dunia salah satunya di kawah Ijen ini dan hanya bisa dilihat pada dini hari. Karena begitu fajar menyingsing, api biru akan segera kelihatan bersamaan dengan asap belerang yang mulai memenuhi area kawah.
Melihat menawannya Banyuwangi membuat kami segera merencanakan perjalanan menuju kesana. Kami tidak banyak membuat itinerary karena hal itu justru bisa membuat kecewa kalau tidak kesampaian. Kami putuskan untuk berangkat menggunakan kereta api dari Jogja menuju Banyuwangi selama 14 jam. Perjalanan yang cukup panjang untuk dilalui tetapi sebenarnya murah karena harga tiket yang hanya sebesar 100 ribu rupiah. Akhirnya kami bertiga (aku, mbob dan sentid) berangkat bersama pada tanggal 14 September 2015 dari stasiun Lempuyangan. 
Rp 100.000 untuk 14 jam
Ternyata kami mendapat kabar baik karena kawan kami yaitu Harry yang bekerja di Banyuwangi bersedia memberikan tumpangan selama disana.  
Perjalanan berjalan lancar walaupun di tengah perjalanan sempat berbincang dengan sekelompok orang dengan pakaian  semacam Jubah yang belakangan aku ketahui dari Bangladesh. Aku sendiri sempat merasa was-was karena selama pembicaraan, mereka hanya fokus pada dakwah dan dakwah. Hal ini karena adanya kengerian terhadap radikalisme yang makin merajalela. Beruntung mereka segera turun di Surabaya, untuk kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi.
Dan akhirnya, taraaa kami sampai di stasiun Karangasem banyuwangi, satu stasiun terakhir sebelum staisun paling timur, yaitu Banyuwangi Baru tepat waktu pada jam 21.15
Tepat jam 9.15 malam

Rumah Singgah Backpacker Banyuwangi

Sesampai di Banyuwangi, ternyata sudah dijemput Harry, yang memang sudah sekitar 2 tahun bekerja disana. Kami merasa berterimakasih atas sambutannya (I really appreciate for your kindness boy ). Awalnya kami berniat beristirahat di rumah singgah backpacker yang terletak tepat di depan stasiun Karangasem, jalan kaki pun hanya butuh waktu satu menit. Tapi apa boleh buat rejeki melalui kawan kami Harry memang tak baik ditolak hehehe
Akhirnya kami beristirahat sejenak melepas lelah setelah melakukan perjalanan 14 jam ditemani dengan beberapa orang Bangladesh yang cukup ngeri, sembari berbincang setelah sekian lama tidak berjumpa. Dengan merencanakan esok hari untuk segera mengeksplor kota yang terletak di ujung timur ini. 14 jam kami di gerbong kereta demi mencapai area ini usai sudah.
Here we go Banyuwangi!!

#travelling #local #Banyuwangi

Monday, 7 September 2015

#Acicis20 for Indonesia and Australia

Have an international experience is great thing on life. As we live in Jogja which is well known as cultural, education and tourism city, much tourist always come from all around the world throughout the year. For person who has passion in international issues, wants to learn foreign languages and also learns something new, this is the right time and chance to grab.
Sometime people is startled to see that I have no background in international affairs or communication studies, but mine is agro-industry. Seems odd maybe??
The latest event to join is to be volunteer on Acicis’s birthday event held in Jogja on August 28th to 30th 2015. As consortium between Indonesia and Australia, we feel delighted to be given this great chance. Together with some Australians (also Scottish and New Zealander) we work together from pre-event until the last day.
What we actually get? Of course experience and relation are much important than money. We didn’t look for paid activity because we got advantages by entering all events for free hahaha it is great.
Speaking english is a must and understanding each other especially we just knew each other. We have to adapt quickly. Fortunately, all volunteer is easy-going person and easily to adapt, then some volunteers are able to speak Indonesian. Looks wonderful. It totally boosts to improve our english ability. 
Working for 3 days since morning until late night actually made us feel totally tired. But as long as we made for fun, then there was no exhaustion at all. We enjoyed during the event. Instead of we took photo together when we had dinner event. Sounds interesting because we got an experience to have a dish in wonderful place.



At the end of event, finally we knew each other better. Not only for fellow volunteer, but also with staff and some guest. It is really big advantages to gain. Much more important than get paid. 
Another thing to remember is we are being family afterwards. It doesn’t matter whether we come from same background or different, as long as we are aware of international issues and friendship especially between Indonesian and Australian which could be useful for the future. Yeah! To build the great relation for both countries..
Here we feel so thankful to be chosen and trusted as volunteer, also for unforgettable experience. Great job lads! See you on top! 
#Acicis20 #Yogyakarta #Indonesian #Australian #Scottish #NewZealander #DuoDavid