Friday, 17 October 2014

Skripsi, sabar, mental dan keberuntungan

Skripsi. Semua mahasiswa pasti akan mengalami satu tahap terakhir dan paling menentukan sepanjang kuliah. Saat selesai sudah mengambil mata kuliah yang tersedia, selesai kerja praktek dan selesai KKN, saat itulah skripsi datang menguji kita terakhir kalinya.
Skripsi memang wajib dijalani kalau kita ingin lulus terlebih melanjutkan karir ke depan. Mau bekerja atau sekolah lagi. Adanya sosok dosen pembimbing atau sering disebut DPS memang membantu. Seharusnya. Kehadiran mereka untuk membantu menyelsaikan setiap tahap yang tentunya sangat melelahkan dan bahkan hingga menguras air mata. Tahap inilah yang membuat seorang mahasiswa menjadi galau dan bahkan tidak tau harus berbuat apa lagi.
Mulai dari penolakan judul, penolakan tempat penelitian, sulitnya mencari bimbingan hingga sulitnya penelitian yang dikerjakan. Bahkan hal yang tidak terlupakan adalah sulitnya mengumpulkan mood untuk mengerjakan.
Emang inilah tantangannya. Mahasiswa harus selalu maju pantang mundur. Tantangan yang hadir selalu saja tidak terbayangkan. Bahkan hingga melunturkan idealisme awal. 
“Aku harus lulus bulan ini dengan tema ini!” . “Gapapa mundur 2 bulan”. Dan akhirnya bakal bilang ’Yang penting lulus !’ hehehe. 
Sebenarnya ada 2 faktor utama yang menghambat yaitu niat dari mahasiswa dan juga waktu dari dosen. Yang pertama itu wajar dari jaman dulu orang taunya juga mahasiswa harus niat kalau mau selesaiin skripsi. Faktor kedua ini sebenarnya cukup krusial. Waktu yang tidak cocok untuk mengadakan bimbingan membuat skripsi tertunda untuk waktu yang tidak tau kapan. Yang rugi ? mahasiswa kena ruginya. Lulus jadi tertunda. Niat yang berkobar bisa jadi mulai meredup, mau tidak mau harus mengobarkan lagi dari awal.
Kadang mempertemukan niat mahasiswa dengan waktu yang tepat dengan dosen cukup sulit. Perlukah dewi fortuna untuk membantu? Percaya tak percaya memang 
keberuntungan cukup berpengaruh dalam kelulusan mahasiswa. Mulai dari dosen yang membimbing sangat enak, hingga diusahakan lulus tepat waktu. Beruntungnya mereka dan kita tentu dengan senang hati melihat mereka mendapat keberuntungan itu. Dan sedikit berharap kalau keberuntungan akan menghampiri kita. Hahaha sering terjadi ngarep keberuntungan saat semangat mulai menurun karena  berbagai faktor.
Terlepas dari beruntung atau tidak, sebenarnya kita bisa ciptakan keberuntungan sendiri. Tantangan yang datang berulang kali harus dihadapi dengan semangat membara yang berulang kali pula. Apa kata dunia kalau menyerah di saat skripsi? Satu yang jadi pengingat. Hidup bakal jauh lebih berat daripada skripsi. Jadi memang perlu mental dan kesabaran berlipat dalam menghadapi. Orang yang telah berpengalaman akan berkomentar, “Nak, hidup jauh lebih kejam daripada skripsi“. Ya oke dan sangat setuju walaupun belum mengalami, tapi setidaknya belajar dari pengallaman orang lain.
Logikanya, kalau mereka bisa kita juga bisa. Mereka bisa selesai tepat waktu, sesuai keinginan mereka, kita juga bisa selesai. Walaupun tidak tepat waktu, walaupun tidak 100% sesuai keinginan tapi minimal kita bisa selesai dan ada sedikit kebanggan karena bisa menjaga semangat tetap membara.
Mungkinkah? Mungkin. Mungkin banget. Percaya aja dibalik hujan ada pelangi. Semakin kuat menjaga semangat , semakin mungkin keberuntungan akan kelulusan bakal kita ciptakan. 
Karena inti skripsi bukanlah gampang-susah atau lama-cepat, tetapi ada pada semangat membara pantang menyerah...
seperti kata pepatah, sukses itu bukan tujuan tapi sukses itu adalah perjalanan..

Friday, 10 October 2014

Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?

Orang bilang ‘makan terasa enak saat kita lapar’. ‘Tidur terasa nyenyak saat kita mengantuk’. Demikian juga ‘hasil terasa manis saat kita berjuang keras’. Ungkapan yang bukan sekedar ungkapan biasa.
Terbukti di kehidupan sehari-hari. Banyak orang lapar yang langsung makan akan makan dengan lahap dan merasa enak. Analogi yang cukup simple untuk menggambarkan usaha yang sedang dan akan kita lakukan. Setiap orang punya masalah berbeda dan cara untuk menyelesaikan masalah berbeda pula.
Mulai dari kecil ,dewasa hingga tua nanti masalah akan selalu meghadang tiap usaha yang kita lakukan. Mengapa masalah harus ada? Mengapa mereka selalu datang saat kita sedang berjuang mendapatkan sesuatu? Mengapa mereka sering memaksa kita untuk menyerah?
Jawabannya simple. Masalah datang sebenarnya bukan untuk menghancurkan tapi untuk menguatkan kita. Emosi, kesabaran, dan lainnya. Apakah Tuhan sengaja memberikan masalah? Tentu Tuhan memang berniat menguji seberapa tangguh kita dalam bertarung dengan masalah itu. Kalau berhasil maka menang dan sukses, kalau gagal kita mundur dan hancur.
Ingat ini. Tuhan tidak akan memberikan cobaan *baca: masalah* melebihi kemampuan hambanya. Artinya setiap orang yang punya masalah sendiri pastilah punya solusi sendiri untuk mengatasinya. Setiap cobaan atau masalah yang datang akan memperkuat kita dari segi apapun. Kuncinya adalah pantang menyerah. Maju terus pantang mundur. Toh banyak orang bisa mengatasi hal yang sepertinya ‘tidak mungkin‘ menjadi mungkin. Mungkin tapi sulit. Ya memang.
Lebih mudah kalau kita bilang, usaha terus walaupun ada kemungkinan gagal tapi kemungkinan berhasil tetap ada walaupun hanya 1%. Sementara kalau menyerah di tengah jalan kita pasti gagal 100%, bahkan 1000%.
Siapa yang untung kalau kita berhasil? Diri sendiri, bahkan orang lain. Siapa yang rugi kalau kita gagal? Jelas kita sendiri. Memang saat-saat target beralih ke realistis terasa berat sekali. Apalagi berusaha mengikhlaskan hal itu. Tapi memang saat itulah mental ditempa apakah siap menjadi yang lebih baik.
Kalau di film Three Idiot cukup bilang “all is well all is well”. Mungkin ini yang terbaik buatku. Tuhan punya rencana lebih baik dari apa yang kita rencanakan. Sesuatu yang terbaik adalah yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Ingat butuhkan.
Cara terbaik adalah diam sejenak, renungkan lalu lompat ke depan sejauh mungkin. Kalau jatuh, diam lagi lalu lompat lagi.
Yapp pemenang bukan mereka yang selalu menang tapi mereka yang selalu bangkit saat jatuh. Karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Kalau orang lain bisa kenapa kita tidak? Jangan pernah menyalahkan orang lain atau siapapun atas masalah yang menimpa kita. Anggap saja ini cara untuk pendewasaan. Jangan mengeluh dan terus bergerak. Di ujung sana ada cahaya keberhasilan yang siap menanti. Dan tak jarang banyak diantara kita yang terhenti hanya beberapa langkah dari cahaya itu.


Mau tidak mau kalau ingin dapatkan sesuatu terus lah berjuang. Salah itu biasa. Apalagi itu bukan salah kita melainkan kondisi yang tidak pas. 
So come on!